Jumat, 03 Oktober 2014

Avontur ke Kota Seribu Satu Goa


Langit cerah, musim yang baik. Sudah waktunya untuk menikmati alam Indonesia wahai anak muda. Tuhan sudah menciptakannya untukmu, bukan untuk dirusak atau dicemari. Bukan juga dimanfaatkan untuk hal-hal komersil tapi dikembangkan agar semua bagian dari kita bisa menikmati keindahan alam Indonesia sampai ke plosok-plosok tersembunyi. Salut untuk semua pengelola wisata Indonesia yang baik dan bijaksana, salut untuk tukang sampah yang tak lelah bekerja, salut juga untuk kamu yang ngga membuang sampah sembarangan.
Alam kita kaya, apalagi masalah pantai. Bagian alam yang memisahkan daratan dan lautan, Indonesia mempunyai panjang pantai keenam di seluruh dunia. Kali ini saya merindukan pantai, setelah gunung, bukit dan mempelajari sejarah Indonesia. Saya dan teman-teman saya melakukan perjalanan ke kota seribu satu goa, mana lagi kalau bukan kota Pacitan. Salah satu kota di selatan pulau Jawa bagian timur. Kota kelahiran bapak SBY ini memiliki sejuta pesona keindahan alam. Selain goa nya, pantai Pacitan namanya sudah tersohok sejak dahulu, mulai dari pantai Teleng sampai akhir-akhir ini banyak yang membicarakan pantai Buyutan, pantai yang katanya baru-baru ini ditemukan dan belum terjamah oleh wisatawan.
Seperti kebiasaan kita sebelum berpergian kita pasti menggali semua informasi tentang tempat tujuan kita, mulai dari tanya mbah Google sampai tanya teman yang asli dari Pacitan. Pantai pacitan selain keindahannya juga menyimpan sejuta fenomena yang membuat saya semakin bergairah untuk melakukan perjalanan kali ini. Akhirnya kita putuskan tanggal 29-30 Agustus kita turuti hasrat piknik kita. Kali ini saya, mas Rakih, Arika, Mbeng, Sinta, mas Aziz, Handa melakukan perjalanan mengunakan mobil, sekali-sekali jadi anak hore dong, mobil-mobilan men.
Sore itu sekitar pukul 4 sore dengan segala persiapan, tenda, kompor, logistik, bensin mobil, cek mesin mobil, dll kita berangkat. Pelan tapi pasti, tujuan utama kita adalah pantai Siwil. Untuk ngecamp dan bermalam disana. Perjalan di temani alunan suara mas Duta, syahdu bingit gaes. Rute perjalanan kali ini melewati Solo-Sukoharjo-Wonogiri-Pacitan. Kita juga melewati Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri dan kita menikmati senja di Wonogiri.


Setelah sampai kota Pacitan kami berhenti sejenak untuk tanya jalan dan tanya informasi tentang pantai Siwil, karena kita menjunjung tinggi prinsip malu bertanya sesat dimasa lalu haha. Pacitan menyimpan jutaan mitos yang percaya ngga percaya sudah diyakini orang sana dari dulu.
Pantai pacitan mempunyai banyak cerita tentang tragedi-tragedi yang terjadi pada pengunjung pantai, kita disarankan warga sana untuk tidak ke pantai malam itu karena berbahaya, jalan ke pantai juga melewati hutan dikhawatirkan ada orang jahat di jalan. Tapi karena hari belum begitu malam dan kita bertujuh jadi kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ini menantang men, untuk ada cowok-cowok sok kece disekitar saya haha. Sampai di daerah Ngadirojo kita berhenti untuk bertanya ke penduduk sekitar, ternyata kita sudah kelewat berkilo-kilo meter dari pantai Siwil, dan menurut informasi sangat bahaya untuk bermalam di pantai Siwil karena pantai nya di daerah yang cukup terpelosok. Oke ini membuat kita sedikit berfikir. Akhirnya kita menemukan pantai di daerah situ yaitu pantai Taman, pantai dimana tempat penangkaran penyu. Pantai ini aman untuk ngecamp dan bermalam karena juga dekat dengan rumah warga. Disana kita bertemu pemuda desa yang baik, kita ngobrol-ngobrol dan dicarikan kulit kelapa untuk perapian. Lepas dari segala mitos tentang pantai-pantai di Pacitan, kita nikmati malam ini, ini malam yang kita tunggu-tunggu men.
Kita habiskan dengan masak-masak, main kartu, nyanyi-nyanyi ditemani bintang-bintang di langit, dan suara deburan air laut. Malam yang baik, kita menyatu dengan alam, Terimakasih alam sudah menyembukan segala luka kita. Ini Indonesia men, alam nya aja bisa nyembuhin luka apalagi orang-orangnya.


Malam semakin larut, kita semua istirahat. Saya, Sinta dan Handa tidur di mobil. Mas Rakih, Arika, Mbeng dan mas Aziz tidur di tenda. Selamat tidur gaes..
Pagi menjelang, pagi-pagi kita udah pada bangun buat nikmati secangkir kopi dan sunrise dari balik bukit samping pantai. Ini perpaduan yang pas men kopi, pagi, sunrise, bukit, laut, dan kita. Yey, Tuhan Maha Asik.
Btw penduduk sini juga masih ada yang menggunakan sumur untuk suber air bersih. Dan sampai kita pergi hanya satu dua pengunjung yang datang ke pantai Taman. Ini tu berasa kaya private beach gitu, ini pantai kita bung haha.




Setelah puas menikmati pantai Taman, kita berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan kita tanpa rencana, biar Tuhan yang menuntun langkah kita. Pergi dari pantai Taman kita bertanya-tanya warga sekitar. Akhirnya kita putuskan untuk ke Pantai Klayar, salah satu destinasi favorit pada wisatawan, baik lokal maupun domestik. Perjalanan meninggalkan pantai kita disuguhi pemandangan yang epic, kita juga melewati Pantai Soge dan pantai-pantai yang lain.




Sebelum menuju Pantai Klayar kita isi amunisi dahulu, ternyata lumayan susah mencari makan di Pacitan pagi hari. Sebagian besar warung belum pada buka, sebagian yang lain masakannya belum matang. Padahal hari sudah tidak begitu pagi, mungkin mereka lelah haha. Setelah berjalan agak jauh kita baru dapat makan di sekitaran pasar tradisional. Setelah cukup punya energi lagi kita langsung come on menuju pantai Klayar. Jalan menuju pantai klayar sedang diperbaiki. Oleh karena itu kita harus hati-hati, sesekali kita harus berhenti untuk bagi jalan dengan mobil dari arah yang lain, karena jalan yang sebelumnya cukup sempit.
Dan tak beberapa lama kemudian sudah tercium aroma pantai, oh Tuhan. Rasanya tu pengen turun dari mobil langsung lari trus nyebur ke laut gitu. Eh, tapi sepertinya itu hanya angan-angan gaes, usut punya usut hari itu kita ngga boleh nyebur ke pantai karena lagi banyak ubur-ubur beracun berkeliaran dimana-mana. Padahal ubur-ubur kan lucu. Oke demi keamanan dan keselamatan kita bersama kita nurut aja sama peraturan ya, peraturan kan ada buat di langgar, eh.
Dan akhirnya huaaaaa ini dia pantai Klayar, lebih dari Indah ini cuy. Jadi ceritanya dulu pantai ini belum terkenal seperti sekarang. Pantai Klayar mulai dikenal seluruh warga Indonesia sejak bapak SBY jalan-jalan men kesitu bersama keluarga beliau, sekitar 2 tahun yang lalu. Nah sejak itu pantai Klayar tiap hari nya ngga luput dari wisatawan. Kenapa dinamakan Klayar itu karena berasal dari kata Klayar-Kluyur yang artinya jalan-jalan, jadi namanya pantai Klayar. Jawa banget kan namanya, kece dong.
Ini waktunya kita lari-lari dipantai sambil merem trus bersyukur trus berdoa biar ngga nabrak hahaha. Pantai Klayar terbentang luas, dari ujung kanan sampai ujung kiri, kita susuri pelan-pelan ditemani terik matahari siang itu. Untuk kali ini bodo amat mau kulit item juga terserah, yang penting nikmati pantai Klayar men. Sebenarnya yang bagian kiri itu namanya udah beda lagi, namanya Segoro Rupak gitu menurut ibu yang jualan es kelapa muda yang udah saya kepoin. Ombak laut selatan besar men, jadi mending ngga usah aneh-aneh disini, ngga usah nyebur apa lagi foto ditebing-tebing yang bisa kesamber ombak. Kecuali kalo kamu udah lelah dengan kehidupan ini, haha


Pecah men. Ini baru segelintir bagian kecil keindahan Indonesia.
Setelah lari-lari sampai ujung, kita naik ke bukit samping pantai Klayar. Ide yang cemerlang banget gaes. Sampai atas kita dibikin ngga bisa berkata-kata lagi sama alam, ini sih super duper pecah men. Jadi kita bisa melihat lautan luas dari atas trus kalo nengok ke kanan kiri kita bisa melihat pantai trus lagi kalo nengok kebelakang kita bisa melihat daratan. Tuhan menciptakan dunia ngga ada kurangnya. Kaya Tuhan nyiptain kamu buat aku, eh maap. Ini waktunya kita mengabadikan keindahan Indonesia untuk di share ke orang lain, terutama buat kamu yang belum kesini. Disini ada seruling samudra juga, jadi semacam batu gitu bisa nyemburin air dari dalam laut.




Dan bersyukurlah kepada Yang Maha Esa atas segala kenikmatan ini kawan, berdoalah agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati ini semua.
Setelah puas diatas bukit yang so awesome, kita turun bukit menikmati es kelapa muda di pingir pantai yang syahdu. Dan kemudian kita menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan kita. Kali ini Tuhan menuntun langkah kita untuk mengejar sunset tanah Pacitan. Kita putuskan ke Pantai Srau, menurut bapak-bapak yang jaga loket pantai Klayar di Pantai Srau kita bisa melihat sunset yang kece badai. Semangat kita bertambah lagi gaes.
Sebelum itu kita bersihin diri dengan mandi, cerahkan wajah dengan wudhu, dan sucikan hati dengan sholat. Boleh jalan-jalan asal ibadah ngga lupa, ini yang paling penting men.
Cus kita ke Pantai Srau, brum brum bruummm.... akhirnya kita sampai Pantai Srau. Waw it is more more beautiful. Jadi di pantai Srau ini sebenernya kita tu bisa nikmati sunrise dan sunset sekaligus, cuma tinggal berbelok arah doang. Ini pantai tu kece gilak, sekelilingnya aja masih asri gitu ada pohon-pohon kelapa menjulang tinggi trus rumput-rumput yang masih hijau. Dan yang harus kamu tau disini pantai nya bersih banget, ngga ada sampah seupilpun. Kita nunggu sunset disini men, sembari nunggu kita jalan-jalan keliling pantai. Ini kalau jalan kaki ngga selesai sesore kalo mau nglilingi semua bagian pantai. Jadi pantainya tu luas banget. Kita putuskan untuk naik-naik bukit biar bisa melihat semuanya dari atas. Dan kita dibikin takjub lagi, Tuhaaan.



Kemudian yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga, kamu iya kamu. Senjaku yang wow banget. Senja memang selalu indah namun sesaat, cakep namun sebentar, memukau namun lekas menghilang. Halah, yang pasti kita nikmati ini semua men.





Sunset ini menutup perjalanan kita di Pacitan gaes. We will come back for you someday, Insya Allah.
Terimakasih mas Rakih, Arika, Mbeng, Mas Aziz, Sinta, Handa.
Kalo kata mas Duta sih, demi bermain bersama kita duakan segalanya merdeka kita kita merdeka.
Terimakasih doble nya buat yang udah bersedia jadi supir pulang pergi, semoga juga bisa jadi "supir" masa depanku juga hahaha eh eh.
Terimakasih tanah seribu satu goa, Terimakasih Indonesia.
Don't stop traveling. Move from your place, you're not a tree gaeeess...
Untaian puisi terindah sekalipun belum bisa mewakili keindahan alam mu, Pacitan.

Senin, 18 Agustus 2014

Buku Sejarah Backpacker ke Blitar


Blitar merupakan salah satu kota kecil di pulau Jawa, Blitar berada di Jawa Timur bagian selatan. Disebut kota Patria karena berhubungan dengan pasukan PETA pada jaman dahulu yang melawan Jepang untuk kemerdekaan bangsa kita. Disebut kota Koi karena ikan koi yang ada di Jepang dapat berkembang biak dikota ini. Disebut kota Plokamator karena dikota inilah preseiden pertama kita Ir. Soekarno dibesarkan dan dimakamkan. Blitar tepatnya di lereng kaki gunung Kelud yang kemarin baru meletus, kota ini dilewati oleh sungai Brantas. Sudah kebayang gimana kayanya sejarah yang bisa dipelajari di Blitar. Setiap kota di Indonesia memang selalu memiliki keistimewaannya sendiri, begitu juga Blitar.
Waktu saya berencanaya pergi ke Blitar teman-teman saya yang ngga ikut bertanya-tanya, apa yang mau dicari di Blitar? Apa wisata yang ada disana?
Yaelah bro kemana aja? Menurut saya dan teman-teman saya yang mau berangkat, Blitar mempunyai banyak objek wisata potensial yang layak untuk dikunjungi.
Kali ini saya, mas Rakih, Arika, Doni, dan Aziz berencana backpacker ke Blitar. Perjalanan kita kali ini bertujuan untuk mempelajari, mengenang dan mengharargai sejarah yang ada ditanah Blitar. Juga untuk menyambut dan merayakan kemerdekaan kita tanggal 17 Agustus besok.
Pagi itu hari kamis tanggal 14 Agustus 2014 kemarin kita berlima pergi ke Blitar. Saya, mas Rakih dan Aziz berangkat dari Terminal Tirtonadi Solo. Dari sini kita bisa naik bis Sumber Selamat, Mira, atau Eka jurusan Surabaya. Kali ini kita menuju Ngawi lebih dahulu untuk menjemput Arika dan Doni yang akan bergabung dengan kita. Biaya naik bis dari Solo sampai Ngawi 13.000 perorang.

Setelah di Ngawi kita sarapan, kita makan nasi pecel di deket terminal lama kota kelahiran saya ini. Saya makan nasi pecel, kering, mie, kepala ayam goreng, dan es teh cuma habis 9.000. Setelah makan kita naik bis jurusan Surabaya lagi untuk menuju Kertosono. Bis dari Ngawi sampai Kertosono 15.000 per orang. Sekitar habis Dzuhur kita sampai di Krtosono, disini kita cuma transit untuk ganti bis menuju Tulungangung. Bis dari Kartosono menuju Tulungagung biaya nya 12.000 per orang. Kita nikmati perjalanan sambil melihat-lihat kota Kediri.
Setiba di terminal Tulungagung kita naik bis menuju Blitar, sekitar pukul 3 sore kita menuju Blitar. Biaya bis dari Tulungagung ke Blitar 8.000 per orang. Ini ceritanya kita bis-bisan men. Seru, ngabisin waktu diperjalanan dengan becandaan, tidur, dan ngisengi orang.
Sore hari kita tiba di Blitar, Alhamdulillah sampailah kita di kota tujuan. Kita langsung ke tujuan utama, yaitu makam Bung Karno. untuk berziarah, dan mengenang keawesoman beliau sang pahlawan kita. Dari kita turun bis ke makam Bung Karno kita jalan kaki.

Jalan kaki sambil seru-seruan, nyapa orang sana sini, becandan sama anak-anak sekolah. Tak lama kita bertemu dengan makam Raden Widjaja. Wah benar, Blitar memang sarangnya para pejuang masa lampau. Kita mampir buat foto-foto. Lanjut berjalan kita mencari masjid dan tanya-tanya tentang penginapan, pas waktu magrib kita ketemu masjid. Kita sholat dan mandi di masjid. Udah kaya musyafir ini. Jalan kaki kita lanjutkan ke makam, ngga jauh dari situ kita sudah sampai makam. Sepanjang dari parkiran makam sampai ke makam banyak toko-toko, pedagan kaki lima dan penginapan dikanan kiri jalan. Banyak yang menjual lukisan bergambar Bung Karno, all about Bung Karno. Dari buah tangan, nama jalan sampai nama kota ini disebut tanah Bung Karno. Bung Karno memang hebat. Akhirnya kita masuk ke gerbang makam, disini kalau mau masuk makam kita harus mengisi daftar pengunjung terlebih dahulu. Menurut petugas karena hari sudah malam kita boleh masuk makan tapi hanya sekedar seperlu nya saja. Kita putuskan untuk tetap masuk makam, disini ngga perlu bayar tiket masuk seperti tempat wisata hanya membayar seikhlasnya untuk petugas yang mengantar dan membukakan gebang. Dan finally, kita sampai di tujuan utama kita, Makam Bung Karno. Sejenak kita menundukan kepala, mengirimkan doa untuk beliau yang ada diatas sana.


Didepan makam terdapat museum Bung Karno, tapi karena hari sudah malam musium nya tutup. Kita berencana cari penginapan disekitar sini untuk pagi nya kembali kesini lagi. Sambil cari penginapan kita berencana jalan-jalan terlebih dahulu untuk menikmati dan melihat-lihat kota Blitar. Kita berencana ke alun-alun kota Blitar, jalan kaki men. Yang mau naik becak juga ada, tapi kalau kendaraan umum lainnya mungkin belum ada.
Untuknya ada mas Rakih yang ngertiin banget kalo adek nya ini jarang jalan kaki. Minta gendong, terimakasih mas Rakih.



Dan kita sampai di alun-alun kota Blitar. Blitar ini memang kota kecil, sepanjang jalan nya ngga begitu ramai. Selama kita berjalan kita cuma ketemu satu alfamart dan jarang terdapat atm. Tapi disini kotanya damai banget, orang-orangnya ramah, berasa semua saudara sendiri gitu. Contohnya waktu kita di alun-alun kita ketemu bapak penjual kopi, kita diajakin ngobrol. Dikasih pengetahuan banyak hal tentang kota Blitar, bercerita tentang letusan gunung Kelud yang kemarin baru terjadi. Dan kita tanya banyak hal disitu, Trimakasih bapak atas ilmu nya.

Dan kita putuskan untuk ngopi-ngopi men. Sambil menikmati malamnya tanah Bung Karno, ngopi dipingir jalan, koploan men. Bapak nya yang jual nyalain musik kenceng, wuasik.
Setelah kiranya malam kita berjalan kembali menuju sekitaran makam, dan kembali ke penginapan yang sore nya sudah kita tanya-tanya. Penginapan nya dibandrol harga 100.000 untuk satu kamar dengan 2 bad, ada yang 60.000 tapi sudah penuh. Disana harga penginapanya macam-macam. Diperjalanan kembali ke sekitar makam tiba-tiba ada ibu-ibu dipingir jalan yang menawari penginapan. Tuhan memang super duper baik sama kita. Ibu nya nawari penginapan cuma 8.000 per orang semalaman. Dimana lagi bakal dapat penginapan semurah ini selain di kota Blitar, Blitar itu emang merakyat banget. Akhirnya kita liat penginapannya, cukup buat kita. Seruangan cukup gede dengan TV, tiga kamar mandi, tempat sholat, cuma disini ngga ada kasur. Ngga masalah buat kita, selama disediain tikar dan bantal. Ini udah mewah banget dengan harga 8.000 perorang, gilak.
Akhirnya kita istrahat. Karena dipenginapan banyak bantal, bantalnya saya tata sedemikian rupa kemudian saya pakai buat tidur. Ini ceritanya penginapan dengan harga 8.000 dapet kasur, terimakasih Tuhan. Penginapan ini tak akan terlupakan.
Pagi menjelang, kita harus melanjutkan perjalanan. Kita sarapan dulu, disediain ibu penginapan nasi pecel cuma 6.000 rupiah per porsi, udah sama tempe, tahu, kerupuk dan kopi susu cuma 2.000. Nikmatnya pagi ini.
Sekitar setengah 8 kita check out karena makam akan buka jam 8 pagi. Kita berjalan menuju gerbang untuk masuk ke museum.






Kita bisa baca rekam jejak Bung Karno dari kecil sampai beliau wafat disini. Cerita disertai gambar  tentang perjuangan Bung Karno, tentang agama Islam yang akhirnya menjadi keyakinannya, dan banyak lagi hal lain. Kalian anak bangsa Indonesia harus meluangkan waktu sesekali untuk kesini.
Setelah dari museum kita mampir ke makam lagi, rasanya ngga afdol kalau hanya lewat disampingnya. Disana banyak yang jual bunga untuk ditaburkan diatas makam, harga bunga berkisaran 5.000 untuk 2 plastik dengan isi sekitar satu kali taburan. Kita daftar pengunjung lagi untuk masuk ke makam, dan kita berdoa bersama-sama disana.





Setelah selesai berdoa, kita lanjutkan perjalanan menuju Candi Penataran. Perjalanan keluar makam kita akan disuguhi puluhan toko pusat oleh-oleh.
Kita ke candi Penataran naik angkot dengan biaya 8.000, dari deket makam. Kabarnya di Blitar jam 12 siang ke atas angkot sudah jarang yang beroprasi, dan susah ditemukan. Untungnya kita bertemu dengan bapak Dayah, pak supir angkot yang kita naiki. Bapaknya bersediah jemput kita sepulang dari candi untuk dianter ke terminal dengan tambahan biaya 10.000. Pak Dayah juga banyak bercerita tentang candi Penataran. Yang mau kesini bisa hubungi cp pak Dayah 0856304481. Bapaknya bro banget, terimakasih pak Dayah.
Candi Penataran merupakan candi terluas di Jawa Timur. Candi ini dulunya digunakan untuk berbagai kegiatan agama Hindu, dan konon digunakan juga untuk pemujaan keselamatan gunung Kelud. Tidak ada harga tiket masuk untuk ke candi, kita hanya mengisi buku tamu.



Disamping candi ada mata air, disitu terdapat ikan yang tidak dapat di temukan di daerah lain. Mitosnya kalau cuci muka dengan air dari sumber air ini muka kita akan awet muda. Langsung tanpa pikir panjang kita cuci muka disitu, percaya sama Allah saja jangan percaya sama yang lain. Disitu kita ngobrol dengan bapak-bapak yang punya warung disamping sumber air, bapak nya bercerita banyak tentang Blitar, gunung Kelud, dan Candi Penataran ini. Terimakasih bapak.
Hari sudah siang, yang cowok-cowok harus jum'atan, kita singgah di masjid untuk ibadah. Setelah dari masjid kita di jemput sama pak Dayah untuk ke terminal. Sebelum ke terminal kita singah dulu di Istana Gebang, rumah masa kecil Ir. Soekarno. Disini juga tidak ada tiket masuk, kita hanya mengisi buku tamu. Blitar memang daerah anti komersial, polos, adem, ayam. Bergegas kita berjelajah masuk ke dalam rumah Bung Karno.



Saya sempat merasakan sholat di mushola rumah Bung Karno, beruntungnya saya bisa satu tempat dengan orang hebat. Setelah cukup berkeliling kami menuju terminal di antar pak Dayat. Sepanjang perjalanan pak Dayat bercerita, ternyata di Blitar ini apa-apa geratis. Dari mulai sekolah gratis, naik angkot anak sekolah gratis. Angkot untuk anak sekolah di Blitar sudah di sediakan tersendiri oleh pemerintah, jadi anak sekolah tinggal naik angkot tersebut tanpa dipungut biaya. Kesehatan pun disini juga geratis, hanya menunjukan KTP asli orang blitar disini bisa berobat gratis di rumah sakit atau puskesmas. Dan satu lagi yang geratis, di Blitar nikah juga ngga bakal dipunggut biaya. Wow, saya berdecak kagum dengan kota ini. Dari awal saya dan teman-teman dapang semuanya serba murah, dan ternyata pemerintahnya justu punya program-program luar biasa seperti ini. Salut untuk pemerintah kota Blitar.
Sampai di terminal kita makan siang terlebih dahulu, setelah itu naik bis jurusan Nganjuk. Kita ngga mengambil jalan seperti jalan yang dilewati waktu berangkat, setelah tanya sana sini kita putuskan untuk naik bis jurusan Nganjuk. Bis dari Blitar ke Nganjuk 20.000 per orang. Perjalanan ini kita tutup masih dengan keseruan dan kegilaan kita. Suasana bis menjadi pecah dengan gelaktawa kita. Sepanjang jalan kita juga menikmati sunset nya tanah Kediri.

Dari terminal Nganjuk, kita lanjutkan naik bis menuju Solo dengan biaya 25.000.
Dan perjalanan kita berlima untuk membongkar dan mempelajari sejarah kota Blitar selesai.
Blitar itu berlian yang tersembunyi, awesome!
Selamat ulang tahun yang ke-69 Indonesiaku, bangga dengan Indonesia.
See you next time Blitar, jangan pernah melupakan sejarah.